DIDACTICAL DESIGN RESEARCH (DDR)

UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN

Penelitian Desain Didaktis atau lebih dikenal sebagai Didactical Design Research (DDR) pertamakali diperkenalkan melalui seminar nasional tahun 2010 di Universitas Negeri Malang, setelah sepuluh tahun (mulai tahun 2000) dikaji secara bertahap melalui proses riset dan kajian pembelajaran dalam aktivitas Lesson Study. Penelitian desain ini dikembangkan paling tidak dengan lima alasan. Pertama, tradisi penelitian pendidikan yang lebih berorientasi pada pengkajian model atau pendekatan pembelajaran cenderung kurang melihat karakteristik desain bahan ajar serta dampaknya terhadap proses dan perkembangan berpikir anak. Kedua, perlunya pergeseran orientasi pengembangan bahan ajar dari upaya pencapaian tujuan menjadi upaya optimalisasi potensi anak sesuai kemampuan dan pengalaman belajarnya. Ketiga, perlunya pergeseran orientasi belajar dari hanya menerima produk pengetahuan menjadi proses dinamis berkelanjutan yang mampu memberikan pengalaman berpikir reflektif dalam memaknai, mengkonstruksi, serta menggunakan pengetahuan dalam berbagai konteks sesuai kebutuhan anak. Keempat, perlunya pergeseran orientasi profesionalitas pendidik dari cenderung sebagai pengguna menjadi pengembang pengetahuan. Kelima, perlunya pergeseran orientasi pengembangan profesionalitas dari kecenderungan bersifat pasif-terisolasi menjadi aktif-kolaboratif.

Didactical Design Research (DDR) adalah sebuah metode penelitian baru yang mengedepankan kajian didaktis sebagai syarat cukup tercapainya kualitas pembelajaran berorientasi kepentingan peserta didik. DDR lebih mengadaptasi paradigma enterpretif-kritis dalam upaya menghasilkan desain didaktis inovatif menggunakan pendekatan reflektif pada tiga tahapan yakni reflection for, in, dan of action sebagai upaya optimalisasi proses berpikir pendidik-peneliti sebelum, pada saat, dan setelah pembelajaran. Pada tahap reflection for action, dilakukan kajian kualitas dan karakteristik desain yang biasa digunakan dari perspektif ragam learning obstacles (epistemologis, ontogenik, dan didaktis) yang bisa terjadi; kerancuan learning trajectories anak secara struktural maupun fungsional yang berpotensi melahirkan cognition-gap; serta kerancuan situasi didaktis (aksi, formulasi, validasi, dan institusionalisasi) yang berdampak pada kemiskinan bahkan ketiadaan pengalaman abstraksi sebagai ruh utama proses belajar. Sebagai langkah prospektif analisis, desain awal yang dihasilkan berdasarkan analisis tiga aspek tersebut serta hasil repersonalisasi dan rekontekstualisasi materi, selanjutnya dikembangkan prediksi respon anak serta antisipasinya atau antisipasi didaktis-pedagogis (ADP) yang mendasari proses implementasi desain selanjutnya. Pada tahap reflection in action, dilakukan analisis metapedadidaktik yang berfokus pada aspek kesatuan, fleksibilitas, dan koherensi alur belajar serta rangkaian situasi didaktis yang dilalui anak. Sementara pada tahap reflection of action, dilakukan analisis retrospektif yang di dalamnya dilakukan perbandingan antara hasil analisis prospektif dengan hasil analisis metapedadidaktik. Hasil analisis ini menjadi bagian penting dari langkah penyempurnaan desain sehingga terakumulasi argumentasi didaktis-pedagogis sebagai bagian integral konstruksi desain didaktis yang dikembangkan.