KEISTIMEWAAN KARYA INOVASI DDR

Keistimewaan karya inovasi DDR dilihat dari segi teknis, ekonomis, sosial maupun lingkungan

Secara teknis, pendekatan penelitian DDR sangat berbeda dari penelitian pendidikan dengan paradigma empiris (misalnya eksperimen) dan paradigma kritis seperti penelitian tindakan kelas (PTK). Perbedaannya terletak pada fokus kajian yang umumnya berorientasi memperbaiki syarat perlu pembelajaran seperti metode dan pendekatan pembelajaran, media, serta peranan teknologi dalam pembelajaran. DDR secara eksplisit lebih berorientasi pada perbaikan syarat cukup pembelajaran (aspek didaktis) yang secara langsung atau tidak langsung juga akan bersentuhan dengan perbaikan syarat perlunya (aspek pedagogis). Pembicaraan syarat perlu dalam DDR antara lain terjadi ketika penelititi merancang antisipasi didaktis-pedagogis (ADP) yang menjadi salah satu kekuatan utama DDR yakni dengan menempatkan proses reflection for action sebelum tindakan didaktis maupun pedagogis dilaksanakan.

Secara ekonomis, DDR memainkan peran dalam upaya perubahan mindset pendidik maupun peserta didik dari pola pikir konsumtif ke pola pikir produktif khususnya dalam kaitan dengan ilmu pengetahuan. Proses yang dilalui peneliti dalam menghasilkan desain didaktis baru seperti repersonalisasi dan rekontekstualisasi, pengkajian learning trajectories anak, pengkajian ragam learning obstacles (epistemologis, ontogenik, didaktis), serta ragam situasi didaktis (aksi, formulasi, validasi, institusionalisasi) mencerminkan upaya produktif yang lebih menyesuaikan dengan hakekat kebutuhan dan potensi peserta didik. Dalam implementasi pembelajaran, kontrak didaktis antara guru dan peserta didik (melalui proses akulturasi atau adaptasi) menggambarkan upaya memandirikan peserta didik dalam menghasilkan pengetahuan. Dengan pendekatan ini, bukan hanya pendidik yang menghasilkan pengetahuan baru, akan tetapi juga dimungkinkan seorang pendidik memperoleh pengetahuan baru dari peserta didiknya.

Secara sosial, DDR menawarkan proses kerja kolaboratif antar pendidik (termasuk calon pendidik) sebagaimana yang sedang dilakukan di lingkungan Kota Bandung melalui penelitian dengan judul “Implementasi Model Sistem Komunitas Pendidik Berbasis Riset (DDR)”. Melalui proses kolaboratif ini, setiap pendidik seperti praktisi (guru), teoretisi (dosen), maupun calon pendidik (mahasiswa calon guru) secara bertahap akan mengarah menjadi seorang adaptive expert, yakni seorang pendidik yang mampu melakukan tindakan didaktis maupun pedagogis dengan sangat baik dilandasi argumentasi teoretis yang bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam kaitan dengan lingkungan, DDR juga memiliki potensi yang kemungkinan akan berdampak positif pada berbagai situasi termasuk lingkungan. DDR berupaya memberdayakan potensi yang ada pada manusianya, termasuk proses saling memberdayakan antar manusia melalui kerja kolaborasi (antar pendidik, antar peserta didik, serta antara praktisi dan teoretisi). Jika proses pendidikan ini secara konsisten dilakukan dan berkelanjutan, maka secara akumulatif akan terjadi pergeseran orientasi dari pemenuhan kebutuhan ekonomi melalui pemanfaatan lingkungan alam, ke pemberdayaan potensi manusianya yang lebih menjanjikan. Negara maju seperti Jepang serta tetangga terdekat seperti Singapura, telah lama menggunakan proses pendidikan untuk pemberdayaan generasi muda sehingga berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi, tanpa merusak lingkungan.